Teman MLM : Datang Tak Diundang, Tahu-Tahu Pulang

Deg-degan itu saat tiba-tiba kita dihubungi teman lama yang tidak pernah dekat. Bertanya-tanya apa kabar serta pertanyaan dan jawaban retoris lainnya. Tentu saja kita tidak boleh dong memutuskan silaturahmi yang sebelumnya sekedar riak-riak air mengalir. Dengan alasan apapun. Apapun itu. Entah asuransi, bisnis ataupun pengobatan herbal.
 
Apalagi saat kita dilanda kesedihan dengan penyakit yang tiba-tiba datang. Kita harus berterimakasih dengan segala perhatian yang diberikan sahabat dan teman-teman kita. Karena setiap doa adalah kesembuhan batin. Sedang untuk kesembuhan lahir, kita harus mengusahakannya. Dan bagaimana kita mengusahakannya? Itu adalah pilihan masing-masing.
 
Dan terimakasih untuk teman-teman yang menyarankan pengobatan alternatif ini dan itu. Itu adalah sebuah perhatian lebih buat saya. Walau saat ini saya lebih percaya dengan penanganan secara medis dari dokter. Mungkin ada teman-teman yang lebih cocok ditangani secara herbal. Itu adalah pilihan yang tidak dapat dihindarkan.
 
Untuk kasus saya, yang kebetulan leukemia, saya tidak ingin mempertaruhkan nyawa. Jangan bilang saya pasrah karena saya masih berjuang. Jika memang sudah waktunya kehidupan ini berhenti, setidaknya saya telah mengusahakan yang terbaik dari apa yang saya percayai.
 
Tapi, tetap semangat buat teman-teman yang ingin membantu orang-orang dengan pengobatan alternatifnya. Cemungut!
Advertisements

Kontemplasi

Beberapa bulan belakangan ini saya bergelut dengan leukemia dan masih harus bergelut lagi kedepannya. Untuk mengendalikan sel darah putih saya, dokter memberikan dosis 400mg glivec per hari. Bila dihitung-hitung, sudah hampir 1.700 pil obat saya konsumsi. Bosan? Iya! Bayangkan saja saat kita sehat dan terkena flu, minum obat selama 3 hari saja membosankan. Tapi untuk obat ini tidak boleh bosan katanya. Karena obat ini akan jadi teman saya seumur hidup.

Efek kemoterapi bukanlah hal yang aneh lagi bagi saya, meskipun kadang juga membuat frustasi. Rasa mual, kram otot, nyeri tulang belakang dan kaki bengkak. Belum lagi berat badan yang melonjak drastis hampir 20 kg. Apakah saya merasa sehat? Tidak juga. Meskipun memang tak sepayah saat belum berobat. Apalagi akhir-akhir ini tulang belakang saya sering terasa nyeri, dan tubuh tak punya daya yang kuat.

Kemarin saya hampir pingsan dua kali, otak saya terasa seperti CD rusak yang tersendat. Kejadiannya sekian detik, dan untungnya saya segera menenangkan diri. Tubuh saya yang payah tidak bisa menipu. Saya merasa sisa energi saya hanya 50% dibandingkan saat masih sehat dulu. Saat ini, saya masih minum obat. Saya masih rutin kontrol ke dokter dan cek darah rutin.

Bulan Agustus 2017, ada 3 sahabat leukemia yang berpulang, dan bulan September 2017 sudah 2 orang yang berpulang. Mungkin kejadian ini sekedar mengingatkan, bahwa saya pun sedang dipersiapkan untuk pergi.

Susahnya Mendapatkan Glivec

“Maaf mbak, lagi kosong”
“Habis mas”
“Coba besok saja pak kembali kesini”
“Atau … nanti kita kabari lewat sms bu”

Ini kalimat yang lumrah kita dengar saat ingin menebus glivec di bagian farmasi di rumah sakit Dharmais. Hal tersebut bagi penyintas leukemia apalagi jenis CML seperti saya, bisa berarti vonis kematian yang kian dekat. Ketika saya tidak diperbolehkan melewatkan glivec satu hari pun, apalagi saat saya sudah di fase akselerasi/percepatan ini.

Saya pernah dua minggu absen konsumsi obat kemo karena ada pergantian dari hydrea ke glivec, sel darah putih (leukosit) saya meloncat tinggi dari 74.000 menjadi 288.000. Fantastis bukan? Hidup saya tergantung obat. Ya tentu saja kalau saya mengatakan ini pasti saya ditampar orang, beberapa bilang hidup tergantung Tuhan. Oke. Karena situ memang oke. Tunggu saya belum selesai.

Glivec merupakan jenis obat imanitip yang Indonesia belum bisa produksi sendiri, mungkin menyangkut hak paten. Oleh karena itu entah iya atau tidak, Glivec sangat mahal harganya karena harus diimpor dari luar negeri dan direpacking di Indonesia. Untuk informasi, Imatinib adalah obat kemoterapi untuk mengobati pasien-pasien yang terdeteksi Chronic Myeloid Leukemia (CML) dengan Philadelphia Chromosome Positif (Ph+) baik pada Fase Kronis, Fase akselerasi atau Krisis Blast. Sebutir glivec 100mg saat ini bisa mencapai harga kurleb Rp. 275.000.

Sesuai dengan arahan dokter, masa siklus kemoterapi leukemia saya adalah 18 bulan perawatan glivec 400mg. Dengan target rasio BCR-ABL < 0.1%, saat ini rasio BCR-ABL saya sekitar 300%. Siklus kemo 18 bulan tersebut bukan siklus menuju sehat, tapi siklus mempertahankan kehidupan. Dimana siklus tersebut harus diulang, diulang dan diulang seumur hidup. Artinya konsumsi Glivec seumur hidup, selama kita masih hidup. Hitungan finansialnya adalah selama 1 bulan biaya untuk Glivec adalah Rp. 33juta. Oke. Situ masih oke?

Dan bagaimana Glivec kadang kala bisa jarang dan susah diperoleh? Apakah menyangkut kuota BPJS? Atau memang kuota impornya dibatasi? Atau ada masalah di beacukai? Entahlah. Yang jelas, bagi penyintas leukemia yang mengikuti pengobatan lewat sistem JKN dalam hal ini saya adalah BPJS. Kita tidak bisa menyalahkan sistem yang sudah membantu ini, tak boleh cengeng saat kita sudah dibantu banyak oleh sistem ini. Hitunglah tambahan waktu yang sudah kita dapatkan, bukan seberapa jauh waktu yang kita inginkan. Sekali lagi hidup saya mungkin tergantung obat, tapi kehidupan saya telah diatur oleh Tuhan. Saat ini kita berhak memilih, ingin sekedar hidup atau menjalani kehidupan?

By the way, siklus 1/18 saya sudah hampir selesai. Saya sudah mendapatkan obat kemoterapi untuk siklus 2/18 dengan perjuangan berat saudara beda warna kulit yang pantang pulang sebelum obat datang. Sementara teman-teman penyintas lain ada yang tak konsumsi obat karena saat waktu siklus mereka habis, habis pula stock obat di farmasi. Bisa dua minggu, bisa sebulan! Tak harus menunggu di sms, harus stand by di rumah sakit untuk memastikan. Oke kan? Situ pasti oke!

Ini penampakan Glivec saya baik yang ada dan tiada.
IMG-20160729-WA0001

IMG-20160729-WA0002

Nanang Setiawan
aka Satria Janar

Penyintas Leukemia
Pecinta Makanan

Menjawab Ayah

Saya mungkin tidak pernah menyangka karena sampai sekarang masih ada dua pertanyaan nakal dalam hati saya. Pertama, tahun 2014 saya pernah berkunjung ke salah satu perusahaan farmasi untuk menjalankan tugas audit, perusahaan itu sendiri notabene adalah produsen obat dan importir imanitib alias obat kanker darah leukemia yang diberi merk Glivec. Saat itu saya diberikan penjelasan sekilas bahwa Glivec merupakan obat untuk kanker darah atau leukemia.

Saya berlagak mafhfum walau selama ini saya hanya tahu tentang leukemia di televisi. Ya kadang-kadang sekilas di tayangan sinetron Indonesia yang dengan mudahnya seseorang terkena leukemia atau tiba-tiba tertabrak mobil dan amnesia atau meninggal dan tiba-tiba beberapa waktu kemudian muncul saudara kembarnya. #curhat.

Dan pertanyaan kedua adalah alasan atas pertanyaan pertama “Dari banyaknya orang di Indonesia, kenapa saya yang terkena Leukemia? Why me??”.

Sesuatu hal yang tidak pernah saya banggakan menjadi salah satu pengidap penyakit yang langka. Untungnya saya tidak hidup di dunia sinetron yang penuh drama. Penyakit datang kepada kita semua baik beriman maupun tidak beriman. Seperti halnya umur dan rejeki. Karena memang Tuhan tak pilih kasih bukan?

Saat ini adalah masa saya (ingin) menikmati penyakit saya, walau sebetulnya juga belum ikhlas-ikhlas bener. Wajar menurut saya, walaupun ada yang menyarankan saya untuk lebih banyak istighfar (maturnuwun sarannya). Saya sendiri baru menjalani terapi kemo sitostatika dengan Glivec selama 27 hari, mungkin di lain tulisan akan saya ulas bagaimana hasilnya.

Balik lagi ke judul di atas, kejadian ini bermula saat saya pulang kampung ke Blora dalam rangka libur lebaran. Ketika saya sudah merasa siap untuk memulai pengobatan saya. Menjawab beberapa pertanyaan dan menceritakan beberapa kemungkinan kepada beberapa orang tersayang termasuk ayah dan ibu.

Kabarnya 5 tahun adalah kemungkinan yang terbaik. Ayah saya yang terlihat benar-benar sedih. My 74 yrs old dad. Survival dan pasien hepatitis kronis dan kerusakan saluran pencernaan. Yang pernah divonis tak melebihi sekian bulan oleh dokter. Yang sekarang sedang menjalani sekian tahun kehidupannya yang lumayan bahagia.

Saya sedih melihat ayah saya menangis saat saya pura-pura tertidur, mungkin karena dia telah menguburkan tiga anaknya dan karena saya bercerita apa kata dokter tentang peluang hidup saya.

Akhirnya keesokannya setelah didahului prolog, ayah saya bertanya, “Menurut kamu gimana le? Kamu siap?”.

Saya jawab kira-kira seperti ini “Siap ayah, karena dengan mengetahui sisa hidupku ini, aku akan lebih mencintai hidup dan kehidupan, aku akan lebih siap dan mempersiapkan, karena pada dasarnya aku lahir untuk “tinggal” dan meninggalkan”. (tentu di tulisan ini kalimatnya saya buat lebih dramatis, padahal saya ngakunya tidak hidup di dunia drama ya?).

Sontak wajah ayah terlihat menyeringai dan tersenyum, dia mungkin lebih mengerti dan sedikit lega. Saya paham, hidup bukan tentang apa yang kita hadapi, tapi bagaimana kita menghadapinya. Bukan sekedar matematika, tapi lebih ke fisika dan biologi.

Untuk teman, kawan dan sahabat, serta orang-orang yang terkasih, terimakasih untuk segala doa kesembuhaan saya. Tapi jangan terus mendoakan kesembuhan saya. Karena (mungkin) saya (tidak) bisa sembuh. Doakan saja saya bisa menjalani sisa kehidupan yang terbatas ini dengan baik, secara jasmani dan rohani, material dan spritual. Sembuh adalah bonus, hidup dengan baik adalah arah dan kewajiban.

28.07.2016.

Nanang Setiawan
aka Satria Janar.

Leukemia Fighter.
Food Lover.

Kemoterapi Dimulai

Akhirnya setelah perjuangan yang lumayan panjang dan melelahkan di RS Kanker Dharmais, yang mungkin kapan-kapan saya ceritakan disini, saya mendapatkan kepastian untuk melanjutkan pengobatan Leukemia saya. Bukan pengobatan untuk kesembuhan, melainkan pengobatan untuk bertahan hidup. Fyuh. Kata dokter: “harus minum obat seumur hidup”. Dan istilah seumur hidup ini sangat menggetarkan jiwa, karena berdasarkan uraian di beberapa blog yang saya baca, belum ada pasien CML yang sembuh.

Leukemia yang saya derita jenisnya CML (Chronic Myeloid Leukemia), ada tiga fase dalam penyakit ini. Yaitu fase kronik, fase percepatan (akselerasi) dan fase blast. Angka harapan hidup rata-rata penderita CML adalah 3-4 tahun dari diagnosis ditegakkan (fase kronik). Dan hanya 30% dari penderita tersebut bertahan hidup sampai 5 tahun. Kematian biasanya terjadi beberapa bulan setelah mengalami fase akselerasi dari fase kronik. Bila telah sampai pada fase blast maka kematian akan terjadi setelah 1-5 bulan akibat kegagalan sumsum tulang. Alhamdulillah saya belum masuk ke fase blast, meskipun saya pun sudah masuk ke fase akselerasi.

Bayangan saya waktu mendengar diagnosa awal terkena kanker adalah kemoterapi. Saya sendiri tak paham apa itu kemoterapi, apakah dengan penyinaran radiasi atau dengan memasukkan cairan obat dalam darah. Untuk jenis CML yang dilakukan adalah dengan cara sitostika. Sitostika sendiri merupakan salah satu jenis kemoterapi.

Menurut dokter, kemoterapi sitostika yang harus saya jalani ini berlangsung selama 18 bulan, dan diulang 18 bulan kemudian, dan 18 bulan berikutnya sampai seumur hidup saya dapat bertahan.

Kemoterapi sitostatika adalah proses pengobatan dengan menggunakan obat-obatan kimia yang bertujuan untuk membunuh atau memperlambat pertumbuhan sel kanker. Obat yang digunakan dalam kemotarapi dapat tunggal atau kombinasi

Sitostatika adalah suatu pengobatan untuk mematikan sel – sel secara fraksional ( fraksi tertentu mati), sehingga 90 % berhasil daan 10 % tidak berhasil.
Tujuan Pemberian Kemoterapi
1. Meringankan gejala
2. Mengontrol pertumbuhan sel- sel kanker

Cara Pemberian
Cara pemberian obat sitostatika dapat dilakukan secara :
1. PO : Per Oral
2. SC : Sub Cutan
3. IM : Intra Muscular
4. IV : Intra Vena

Dalam hal ini sebagai pasien CML saya akan menjalani kemoterapi sitostatika per oral dengan imanitip – Glivec. Dua hal umum tentang Glivec adalah:
1. Obat ini tidak  merusak sel-sel yang sehat (katanya)
2. Obat Glivec ini sangat mahal

Selain itu Glivec juga mempunyai efek samping yang dasyat:

– Bengkak pada jari2, kelopak mata, muka, kaki bagian bawah karena penimbunan cairan.
– Gangguan pencernaan, sakit lambung, perut perasaan penuh
– Merasa sakit (nausea) atau muntah.
– Diarrhoea atau diare
– Sulit buang air besar / sembelit
– Mulut kering.
– Sakit lengan/kram.
– Nyeri tulang
– Sakit kepala. Beberapa orang mengalami sakit kepala dalam periode pengobatan menggunakan imatinib.
– Pusing atau vertigo.
– Letih, badan terasa lemas.
– Ba’al, atau nyeri2 pada jari2
– Sulit tidur, cemas, depresi, bingung dan mudah lupa
– Perubahan rasa
– Gatal2. Termasuk juga rash, eczema (eksim), warna kulit menjadi tambah gelap atau justeru terang.
– Gejala kulit terbakar (merah, gatal bengkak)
– Kulit nyeri berwarna merah, bengkak yang besar/melepuh, kulit mengelupas.
– Telinga berdengung.
– Hilang nafsu makan dan berat badan turun.
– Rrambut rontok.
– Berkeringat pada malam hari.
– sakit tenggorokan.
– batuk atau flu.
– Kulit dan mata berwarna kuning.
– Kehilangan hasrat/fungsi seksual.
– Pembesaran payudara dan puting terasa nyeri.
– Nyeri dada dan pendarahan pada vagina.
– Mimisan serta demam yang tak kunjung turun,
– Dan lain lain.

Saya saat ini mendapatkan 120 tablet glivec 100mg untuk sebulan. Untuk kasus saya mendapatkan dosis 400mg, saya harus minum empat tablet glivec tiap hari sekali minum. Sesuai dengan yang tertera di strip obatnya, satu strip berisi 10 butir senilai Rp. 2.767.188,- atau sekitar Rp. 276.719,- per butirnya. Atau senilai Rp. 33 juta per bulannya. Fantastis bukan? Untuk ukuran orang kaya-pun harga yang harus dibayar untuk berusaha menyembuhkan kanker tentu sangat mahal. Belum lagi ketika harus tes darah tiap 2 minggu dan tes kromosom BCR-ABL yang entah per kapan.

Alhamdulillah, dalam hal ini BPJS-Askes sangat membantu, saya tidak membayar sepeserpun untuk obat ini, setidaknya untuk sebulan kedepan. Yang saya resahkan adalah bulan-bulan berikutnya. Atau tidak sepatutnya saya resah? Karena banyak teman-teman pengidap Kanker CML dan Kanker GIST yang kesulitan mendapatkan atau mengakses obat ini. Umur kita memang di tangan Tuhan, tapi jangan salahkan ketika kami putus asa, karena kami tak yakin sampai pada titik mana kami dapat bertahan hidup.

Untuk teman-teman yang belum ikut program BPJS, ayo bergabung karena BPJS sangat membantu, walaupun prosesnya kadang panjang dan melelahkan. Dan harapan kita semoga pelayanan BPJS selanjutnya bisa lebih baik lagi.

Salam canda!

Referensi: Blog OceKojiro, Blog DonorDarah, Yahoo Answer

Rujukan Askes – BPJS dan Daftar Rawat Jalan di RSK Dharmais

Bulan Mei ini saya sengaja mengambil cuti seminggu dengan maksud agar bisa lebih intens menyelesaikan masalah kesehatan diri sendiri. Dari mengurus tuntas BPJS biar bisa digunakan di RSK Dharmais untuk pengobatan leukemia saya, sampai dengan merencakanan operasi untuk penyakit yang masih menempel di tubuh saya.

Informasi tentang urusan rujukan BPJS saya peroleh dari petugas BPJS di RSK Dharmais, karena RSK Dharmais merupakan Rumah Sakit Tipe A, langkahnya adalah : 1) Rujukan Puskesmas ke RS Tipe B, 2) Rujukan dari RS Tipe B untuk ke RS Tipe A (RSKD).

Jumat, 22 April 2016. Saya harus memindahkan dulu domisili BPJS saya, dari Surabaya ke Jakarta Barat. Syaratnya : Surat Keterangan Domisili tempat tinggal dari RT setempat, FC Kartu Askes-BPJS Asli dan FC KTP/KK. Disini kita ditanya di puskesmas mana kita mau didaftarkan. Olala setelah itu selesai, hanya sebentar.

Selanjutnya menuju puskesmas dengan membawa hasil tes patologi darah dan sumsum tulang yang menunjukkan penyakit kita. Saya pilih puskesmas Kebon Jeruk karena sudah modern, puskesmas ini lebih seperti klinik kesehatan swasta, ada nomor antrian, pelayanan yang ramah dan tentu, dilengkapi lift alias elevator. Cool!

Dilayani dokter-dokter muda dalam ruangan, saya masuk dan berkonsultasi dengan dokter nur indah. Babibu babibu, dokter menawarkan RS Tipe B sebagai rujukan, untuk di wilayah terdekat di Jakarta Barat terdapat banyak Rumah Sakit seperti RSUD Cengkareng, RSUD Tarakan, RS Pelni, RS Siloam Kebon Jeruk, dan lain-lain. Saya memilih RS Siloam Kebon Jeruk karena dekat dengan rumah. Saya dirujuk ke dokter internis di RS tersebut.

Senin, 2 Mei 2016. Di RS Siloam Kebon Jeruk, kebetulan sedang cuti seminggu, ditemani Bujiah saya mendaftarkan sebagai pasien baru BPJS, disini loket BPJS terletak di sisi kiri, tepat di depan lift. Antrian dilayani tiap hari mulai dari jam 07.30 pagi (senin-sabtu). Saya memilih dr. Resa S.Pd, prosesnya juga tak lama hanya beberapa menit. Karena memang kebetulan di RS Siloam Kebon Jeruk tidak ada dokter spesialis KHOM. Saya pun diberikan rujukan ke RSK Dharmais. Proses yang lancar ini membuat saya menghadiahi diri dengan es kelapa muda yang segar di kantin dekat Wisma Indovision green garden.

Selasa, 3 Mei 2016. Keesokan harinya, saya ditemani Toro dan Bujiah menuju RSKD. Saya langsung menuju ke loket jaminan BPJS dan mendaftar untuk pasien baru BPJS. Antrian pasien baru tidak terlalu panjang, sehingga saya cepat dilayani. Tak lupa untuk menyiapkan syarat berkas yaitu FC KTP dan kartu BPJS, Rujukan dari RS dan hasil patologi anatomi atau hasil penunjang lain yang menyatakan kanker. Setelah berkas selesai didaftarkan, jangan lupa untuk mem-fotokopi sebanyak-banyaknya berkas yang diberikan oleh petugas pendaftaran. Biasanya ada dalam ceklist-nya dalam formulir Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Setelah dari Loket Pendaftaran dengan jaminan BPJS, saya diarahkan untuk ke Poliklinik Patologi, disini kita harus menanyakan dan membuat jadwal dengan dokter yang kita tuju sebelum mendaftar ke poliklinik onkologi. Saya menuju ke ruang praktek dr Hilman Tadjoedin, S.PD, KHOM untuk menemui suster dan meminta jadwal rawat jalan. Saya mendapatkan formulir Pendaftaran Poliklinik Sistem Perjanjian dengan jadwal rawat jalan tanggal 30 Mei 2016, padahal saat itu tanggal 3 Mei 2016. Bayangkan saja penuhnya pasien kanker yang harus berobat. Ditambah memang dokter Hilman membatasi jumlah pasien dan waktu praktek yang hanya 3 kali seminggu.

So, begitulah, saya tinggal nunggu waktu untuk bertemu dengan dokter Hilman pertama kali dan memulai pengobatan Glivec. Saat ini saya sendiri mengonsumsi Hydroxyurea Medac 500mg tiga kali sehari.

Berdamai dengan Leukemia!

Leukemia : CML – LGK Fase Akselerasi

Halo!

Seminggu lalu (22 April 2016) atas rujukan Dr. dr. Noorwati Sutandyo, Sp.Pd, KHOM saya menjalani proses BMP (Bone Marrow Puncture) di RS Kanker Dharmais. BMP merupakan proses pemeriksaan sumsum tulang belakang dengan cara mengambil sedikit sampel massa dari sumsum tulang belakang seorang pasien yang terindikasi menderita LEUKEMIA, untuk diperiksa apakah dalam sumsum tulang tersebut terdapat sel sel kanker atau tidak. Ini menurut penjelasan yang saya ambil dari blog mas Oce. Selain itu untuk proses pemeriksaan BCR-ABL, yang entah saya juga tak tahu apa artinya itu. Cuma dari beberapa blog dan keterangan dokter, pemeriksaan BCR-ABL berguna untuk dua hal yaitu:

1. Menegakkan diagnosa CML. Hasil tes BCR-ABL positif menunjukkan bahwa pasien layak diterapi dengan Glivec.

2. Memonitor efektifitas obat Glivec. Pasien CML umumnya memberikan respon yang cukup baik dengan terapi Glivec dimana sekitar 86% pasien CML masih hidup setelah 7 tahun di terapi.

Hasil BMP sendiri dapat diperoleh dalam waktu 1 minggu, sedangkan hasil BCR-ABL selesai dalam waktu 4 minggu. Saya juga kurang mengerti kenapa dibutuhkan waktu begitu lama.

Kemarin, 28 April 2016, seminggu setelah proses BMP saya ke RS Kanker Dharmais untuk mengambil hasil BMP, saya baca sekilas seperti ini:

Keterangan Klinik : CML

Kesimpulan : Kepadatan sel Hipersuler, Aktifitas eritropoiesis tampak tertekan, Aktifitas granulopoiesis hiperaktif, Shift to the left, Basofilia, Eosinofilia

Kesan : LGK fase akselerasi

Tak basa-basi, saya langsung menghubungi dr. Noorwati via WA memberi kabar bahwa hasil BMP telah keluar dan oleh beliau disarankan untuk bertemu di RSPI Puri Indah malam harinya, karena kebetulan beliau praktek di RSPI Puri Indah tiap hari selasa dan kamis.

Saya rasa dr. Noorwati sedikit terkejut karena saya sudah masuk CML / LGK fase akselerasi (percepatan), apalagi saya lemes selemes-lemesnya. Oleh dr. Noorwati saya disarankan untuk melanjutkan konsultasi dengan dr.Hilman Tadjoedin, SpPD.KHOM karena menurut beliau, dr. Hilman spesialisasinya di CML/LGK. Saya juga sempat diresepkan Hydrea sebelum keluar hasil BCR-ABL. Oke dok saya nurut. Meskipun saya sedih tak bisa lagi ketemu dr. Noorwati yang sangat baik.