Being Me

Dear words.

Untuk berbagai alasan saya pernah punya nickname di dunia maya. Dan untuk alasan tertentu saat ini saya memutuskan untuk memakai nickname dari nama sendiri. Ya walau tak bakal sesempurna dengan apa yang saya bayangkan.

Salam …

Hipertensi?

Hipertensi? Yap, siapa sangka?

Riwayat hipertensi memang ada dalam keluarga saya, bahkan sudah merengut dua jiwa kesayangan saya. Ibu saya berpulang tahun 1995 karena hipertensi yang berlanjut stroke. Sedangkan kakak saya berpulang tahun 2015, dicurigai juga hipertensi atau darah tinggi.

Saya memang tak menyangka, biasanya tekanan darah saya tak pernah lebih dari 130, biasanya berkisar 110-130. Namun akhir bulan kemarin saat kontrol ke dharmais, leher saya terasa sakit dan hasil tensi saya 154/86, agak takut juga sebenarnya. Dan ternyata sebulan berikutnya saya tetap merasakan sakit yang sama di leher dan pundak, dan puncaknya di hari sabtu tanggal 24 Des saya merasakan sakit di leher dan pundak yang lua biasa. Saya putuskan untuk ke Puskesmas Kebon Jeruk sore hari, hasil tensi cukup mengagetkan saya, yaitu 187/94. Panik? Pasti. Oleh dokter saya disarankan untuk tes kolesterol yang bisa dilakukan esok hari karena saya musti puasa 10-12 jam. Hasilnya? Kolesterol saya 201, hanya 1 poin di atas normal.

Terus terang hipertensi jadi momok yang menakutkan bagi saya, karena berdasar apa yang saya baca di internet, hipertensi adalah silent killer. Saya berpikir, ini lebih bahaya dari leukemia saya. Hehehe.

Setidaknya saya disadarkan untuk lebih memperhatikan asupan makanan dan kondisi mental saya. Semoga saja saya kuat untuk lebih mengurangi asupan garam, menghindari gorengan, daging merah dan makanan lainnya yang bisa mengatrol tekanan darah serta kolesterol saya.

Bertukar Cerita

RSKD sedang berbenah, kalau biasanya poli onkologi ada di lantai 2, sekarang dipindah ke lantai 1 karena lantai 2 sedang direnovasi. Lantai 1 pun hasil renovasi. Ada kedai kopi baru di lantai 2, yaitu Maxx, ada juga kedai buku dan kedai foodmart. Sepertinya ada perubahan ke arah yang lebih baik untuk RSKD.

Saya janji dokter tanggal 28 November 2016 dengan dokter hilman, kondisi saya alhamdulillah baik, hasil tes darah, leukosit saya di angka 7 alias normal. Tapi sebulan kebelakang berat saya bertambah 5 kilogram. Atau bertambah total 9 kilo selama masa pengobatan ini. Ada keluhan-keluhan kecil yang saya sudah ceritakan ke dokter. Tekanan darah saya saat dicek 152/96, biasanya sih sekitaran 110 atau 130.

Ada hal menarik saat saya antri obat di apotik utama tanggal 29 November 2016, ketika saya bertemu dengan teman-teman CML/LGK. Ada teman baru, ada teman yang sudah lama berobat. Kita saling bertukar cerita. Rata-rata terkena leukemia fase pertama alias fase kronik dengan jumlah leukosit terakhir drop atau sebelum pengobatan yaitu mencapai 300rb – 400rb. Saya sempat bingung juga, saya yang di kisaran 300rb kok sudah di fase kedua alias fase akselerasi/percepatan. Auk ah gelap. Hehehe.

Saya yang tadinya cuek, akhirnya memutuskan akan bertanya lagi ke dokter di sesi selanjutnya di akhir bulan ini. Ya semoga saja tak lupa.

Seperti biasa, rutinitas mengambil obat berakhir sore hari setelah menunggu hampir 6 jam. Ssssabaaar ya.

Bagaimana Cara Menebus Obat Kemo (Glivec) Untuk Leukemia CML / LGK Di RSK Dharmais?

Halo, bulan ini adalah bulan ke-6 saya berobat di RSK Dharmais. Saya dituntut untuk semangat, walau aslinya saya sudah lelah untuk berobat.

Menebus obat bagi pasien LGK atau CML seperti saya susah-susah mudah. Susah pada awalnya, mudah pada akhirnya. Walau tetap juga menyusahkan hehehe. Yang penting kita banyak bertanya pada petugas atau teman-teman di rumah sakit.

Untuk penyintas leukemia jenis CML atau LGK, dengan hasil BCR-ABL positif biasanya diberikan obat sitostatika berjenis imanitip yang bernama Glivec. Dosis dan cara minum biasanya disesuaikan oleh masing- masing dokter yang menangani kita.

Prosedur menebus obat di RSKD seringkali membuat frustasi apalagi kalau kita masih awam dengan prosedurnya. Tapi jangan pantang menyerah, seiring waktu kita pasti akan terbiasa, yang harus kita sediakan adalah waktu dan kesabaran. Apalagi saat ini RSKD sedang berbenah dan memperbaiki sarana dan prosedur untuk kenyamanan pasien. Kita doakan saja semoga semakin membaik.

Berikut ini prosedur standar yang harus kita lakukan jika dokter sudah memberikan kita resep Glivec, masing-masing pun ada syarat dokumen yang harus kita siapkan.

1. Verifikasi resep di bagian farmasi lantai 2.

Syaratnya : Resep asli + fotokopi, SEP asli + fotokopi, fotokopi hasil PA, fotokopi BCR-ABL (+), fotokopi kartu obat (kotak-kotak)

2. Daftar order obat di Poli Onkologi

Caranya : Antrikan berkas resep hasil verifikasi di antrian resep di poli onkologi, nama anda akan dipanggil.

3. Order obat di apotik utama lantai 1

Caranya: Setelah direkam di poli onkologi, ambil antrian B-JKN, dan serahkan berkas resep hasil verifikasi di Apotik utama lantai 1. Obat akan diorder oleh petugas. Berkas akan diserahkan petugas kepada kita.

4. Verifikasi order obat dan kartu obat glivec di loket 5 BPJS

Caranya: Bawa berkas tersebut menuju loket 5 BPJS dan sertakan dengan kartu obat (untuk pasien lama), (pasien baru akan diberikan kartu obat di loket 5, untuk pasien baru siapkan fotokopi hasil PA, fotokopi BCR ABL (+))

Oleh petugas di loket 5, kartu obat tersebut akan diparaf dan ditulis jumlah obet yang disetujui serta dibubuhi tanggal.

5. Stempel kartu glivec di loket BPJS center

Selanjutnya, bawa kartu obat tersebut ke BPJS center di sebelah loket 5 untuk dicocokan/divalidasi dengan arsip kartu obat kita disana. Kemudian setelah cocok akan distempel.

6. Serahkan berkas order resep di Apotik Utama

Selanjutnya bawa berkas resep obat ke Apotik Utama di lantai 1 untuk dimasukkan ke antrian. Anda akan dipanggil bila obat telah siap sesuai nomor antrian anda. Biasanya untuk obat glivec agak lama dipanggilnya. Ini yang membutuhkan kesabaran.

Begitulah alur menebut obat khususnya glivec untuk pasien leukemia jenis CML/LGK di RSK Dharmais. Bila ada perubahan atau tambahan akan saya update kemudian. Semoga berguna bagi teman-teman.

Intonasi

Ada jeda antara kita dan dunia
Saat kau datang, duduk dan menunggu
Aku bergegas lari dan sembunyi.

Apa iya?

Entahlah

Sekilas memang rindu
Dan bisakah engkau tak pergi?

Tak bisa?

Demi jarak yang terlewatkan
Oleh waktu dan ketidakpastian
Ada intonasi ketidakrinduan

Begini saja …

Bolehkan aku saja yang pergi.

-29112016-17:05

Biar Lambat Walau Terlambat

Sedikit cerita tentang kuliah saya.

Akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan lagi pendidikan yang sudah terhenti lama. Mungkin karena terlalu sibuk dengan kehidupan. Malu juga melihat teman-teman saya yang bahkan sudah mengambil studi lanjutan pasca sarjana di luar negeri. Hehehe, tak apalah terlambat. Alih-alih pasca sarjana, saya masih harus menyelesaikan hutang pendidikan sarjana saya.

Saat ini saya menginjak semester kedua di Institut Stiami, sebuah perguruan tinggi yang mengkhususkan diri di studi administrasi bisnis dan administrasi publik/negara/perpajakan. Dan resmi saya adalah mahasiswa tertua di kelas, saya tidak malu sih, karena malu hanyalah milik kemaluan.

Ya, semoga setahun kedepan saya tetap semangat menjalani kuliah ini. Pantang pulang sebelum sidang. Biar lambat walau terlambat.