Ayah – Dalam Kenangan

23 Maret 2017 – 18.45 WIB

Saya baru saja kehilangan seorang lelaki yang paling baik dalam hidup saya. Yang telah mendidik saya dengan caranya. Lelaki terbaik ini berpulang dalam keikhlasan setelah berjuang dengan penyakitnya.
Ayah UsmaPenyesalan saya adalah terlalu menjadwalkan pertemuan kami yang minimal setahun sekali. Walau tak pernah sekalipun ayah menuntut. Dia hanya berharap saya diberikan kesehatan ketika dia sendiri berjuang untuk memperoleh kesehatan. Ayah paham, sedangkan saya tidak.

Saya mungkin tak pernah berkata “tidak” untuk permintaan ayah. Betapa bahagia saya bila melihat beliau bahagia. Senyum kecilnya pun membuat saya bahagia. Ayah selalu berkata dengan caranya. Karena selalu ada makna dalam “kalimat uniknya”.

Saya tidak pernah menyesal atas usaha kecil saya untuk membuatnya bahagia. Tapi saya menyesal karena tak pernah bertanya “apakah ayah bahagia?”. Apakah dia bahagia dengan anak-anaknya? Pernahkah dia kecewa? Ataukah saya selalu mengecewakannya?

Maafkan aku Ayah, bila pernah berkata “tidak” dan itu menyakitimu, atau berkata “iya” tapi tak pernah membahagiakanmu. Maafkan aku pernah bertanya soal rekening listrik yang melonjak, dan membuatmu tak menyalakan AC selama sebulan. Bahkan akhirnya ayah meminta ijin menyalakan karena kepanasan. Seribu penyesalan pun tak bisa membuatku tenang. Karena aku telah menyakitimu dengan caraku. Sementara kau menerimanya dengan lapang dada.

Saat ini, aku menantimu untuk berbicara lagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s